A. Sejarah Desa Gaya Baru Baopana.
Pada masa pemerintahan Orde Lama, Kepala Desa terdapat dimasingmasing Kampung. Namun dengan adanya kebijakan Pemerintah tentang Penggabungan beberapa Desa menjadi satu (1) Desa Gaya Baru, maka terjadilah penggabungan beberapa Kampung atau Desa menjadi satu Desa Gaya Baru. Kampung- kampung yang digabung menjadi satu Desa Gaya Baru antara lain : Lelawerang, Lelalein, Ilowutung dan Dangalangu, yang luas wilayahnya, dari Pantai Utara (Teluk Waienga), sampai Pantai Selatan (Teluk Waiteba). Penggabungan beberapa Kampung atau Desa saat itu terjadi pada Tahun 1963.Di Kampung atau Desa Lelawerang khususnya sedang dikepalai oleh Bapak Rudolfus Raja Lengari. Dengan adanya Penggabungan beberapa Kampung menjadi satu Desa, maka terjadilah Proses Pemiihan Kepala Desa untuk pertama kalinya, yang diadakan pada tahun 1963.
Dalam proses pemilihan, diajukan para calon Kepala Desa dari masing-masing Kampung. Para Calon yang ikut dalam pemilihan yaitu: Bapak Yohanes Lebi Lazar, Agustinus Emi, Stefanus Selu Lengari dan Bapak Lambertus Laba K.Ona.Yang menjadi Kepala Desa terpilih adalah Bapak Yohanes Lebi Lazar. Masa Kepemimpinan beliau beberapa periode atau tepatnya dari Tahun 1963 sampai dengan tahun 1983. Pada pemilihan Kepala Desa Baopana tahun 1983, dimenangkan oleh Bapak Paulus Nagi K.Ona.
Dengan terbentuknya Desa Gaya Baru, maka saat itu juga diadakan urung rembuk untuk menentukan Penamaan Desa. Dari masing-masing Kampung diberi kesempatan untuk menceritakan asal muasal dari masing-masing Kampung. Dari cerita masing-masing kampung, ditarik kesimpulan bahwa semuanya berasal dari Lepan Batan Ruha Rema. Hanya saja tahun perpindahan tidak sama dan tempat berlabuhpun berbeda. Hanya untuk Lelawerang tempat berlabuhnya di Jon Doni, dan Perahunya masih ada, tapi telah menjadi batu. Akirnya disepakti bahwa perjalanan dari Lepan Batan dengan menggunakan Perahu untuk berlayar ketempat tujuan masing-masing, maka disepakati nama Desa baru tersebut dengan nama: DESA BAOPANA.(Baopana artinya berlayar).
B. Sejarah Desa Baopana di Tanah Tereket
Pada Tahun 1979 terjadi Tsunami Waiteba. Bencana tersebut membawa banyak korban jiwa dan harta benda dari warga masyarakat Desa Baopana, khususnya Dusun Dangalangu. Karena Wilayah Baopana sebagian besar sebagai dearah patahan, maka pihak Pemerintah (Kecamatan – Kabupaten/Flores Timur bersama partisipasi masyarakat Desa mengadakan pendekatan keberbagai pihak guna mencari tempat yang aman untuk menjadi pemukiman warga).Disepakatilah tempat yang bernama Tanah Tereket yang terkenal angker dan gersang.
Tahun 1980 mulai diadakan proses Tata Ruang diwilayah tersebut. Tahun 1981 mulai dibangun Rumah Murah dan satu unit gedung Sekolah SD. Rumah yang dibangun sangat tidak layak huni dan sangat memprihatinkan. Fasilitas lainnya tidak ada, termasuk penyediaan kebutuhan air bagi masyarkat.
Tepatnya tanggal 15 Juli 1984, Murid SDK Lelawerang dibawah Komando Kepala Sekolah Bapak Bartolomeus Boli K.Ona, bersama sebagian Masyarakat, mengadakan seremonial adat masuk pemukiman baru. Ritual tersebut dilaksanakan oleh tuan tanah, Yaitu Suku Witak dan suku lainnya dari Desa Merdeka. Tanggal 16 Juli 1984 merupakan hari pertama kegiatan belajar mengajar untuk SDK Lelawerang dan aktifitas masyarakat di Pemukiman baru tersebut. Dalam perjalanan perpindahan ini, ternyata Dusun Leimean lebih banyak memilih Lerahinga untuk menetap dan Dusun Melemu serta Dangalangu memilih bertahan dikampung lama. Hal ini berdampak pada sulitnya pelayanan pembangunan baik dibidang Pemerintahan, Pembangunan maupun pelayanan Kemasyarakatan Dengan adanya Regulasi tentang Pemekaran, Penggabungan Desa, maka Baopana mengusulkan pemekaran Desa. Tahun 1989, Desa Lerahinga terpisah dari Desa Induk Baopana. Desa Lerahinga membawahi Dusun Leimean dan Dusun Melemu.